M. SOLEH YAHYA HIMNI*

Di tengah-tengah bergejolaknya sosial media hingga merembet ke anak-anak di bawah umur patut menjadi keprihatinan kita bersama. Dari data kasus perlindungan anak berdasarkan lokasi pengaduan (laporan masing-masing daerah) dan pemantauan media se-Indonesia yang dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kisaran tahun 2011-2016 tercatat bahwa aspek social dan anak dalam situasi darurat 13,9%, anak berhadapan hukum (ABH) 30%, keluarga pengasuhan alternatif 20,8%, pornografi dan cybercrime 5,1%, pendidikan 9,8%, kesehatan dan Napza 5,7%. Terlihat jelas rekam jejak dalam kurunwaktu 6 tahun saja, anak-anak yang mestinya mendapat pendidikan yang lebih tinggi diharuskan untuk berhadapan dengan hokum oleh karena ulah mereka sendiri. Pornografi dan cybercrime berbanding tipis dengan kesehatan dan Napza. Ini satu indikasi bahwa pola asuh orangtua masih belum cukup maksimal terhadap anak akan keleluasan mereka berselancar di sosial media, karenanya pengawasan anak akan teknologi perlu ditingkatkan dan dicegah sedinimungkin.

Tentu kita mengapresiasi pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaannya untuk menerapkan apa yang sekarang disebut dengan full day school. Sistem ini berorientasi pada how to make children so busy in each day then they have no time to think even though to do a wrong act. Dari sisi kesiapan mental anak menerima pelajaran seharian di sekolah memang sempat menyisakan keluhan-keluhan yang dilontarkan oleh wali murid kepada tawaran sistem pemerintah ini. Namun, itu tidaklah banyak dan sekarang sudah tidak ada lagi aspirasi-apsirasi yang muncul untuk menuntut pemerintah memberhentikannya. Lalu bagaimana solusi yang perlu diinisiasikan orangtua dalam konteks keakraban anak bersosial media? Antara lain adalah memberikan mereka pengetahuan terhadap teknologi, informasi dan komunikasi menyangkut hal apa saja yang dapat mereka manfaatkan darinya dan apasaja yang dapat mengancam masa depannya. Hal ini dipandang penting karena melihat realitas yang adas ekarang, seringkali orangtua mengaktualisasikan kasih sayangnya terhadap anak dengan memberikan fasilitas berbasis teknologi, informasi dan komunikasi tanpa melakukan pengontrolan terhadap aktifitas mereka di dalam maupun luar rumah. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua yang kemudian harus menghadapi anak-anak yang kecanduan teknologi informasi terhadap gawai seperti handphone, tablet, internet, whatsapp, line, instagram, facebook, beetalk, kakaotalk, imo, bigo live, BBM, dan lain-lain. Sekali lagi, pengontrolan yang terlepas dari pengawasan orangtua akan sangat mengancam pembentukan karakter anak yang menjadi prioritas pemerintah saat ini. Jika mereka terus menerus dibiarkan tergerus pada zona ini, maka secara tidak langsung kita sebagai orangtua yang menjadi guru pertama dalam keluarga mereka menjerumuskan generasi bangsa sendiri serta tidak mendukung upaya-upaya pemerintah untuk mencetak generasi yang memiliki integritas tinggi, mencakup nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, keramahtamahan, social human-solidarity, kebersahabatan, kepedulian dan yang tidak kalah penting adalah nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, mau tidak mau orangtua harus lebih intensif melakukan kontrol terhadap aktifitas selancar anak di media sosial jika memang terlampau akrab dengan itu. Kendati pun demikian, mereka juga harus diberikan pengetahuan lebih terhadap teknologi, informasi, dan komunikasi dalam dunia maya. Dengan harapan, cara itu boleh mampu stimulus positif dalam perkembangan karakter anak dari masa ke masa. Dampak baik dan buruk dari ketiga hal tersebut harus dinarasikan sedemikian rupa-tentunya dengan bahasa yang mudah- agar mereka dapat memahami dan mengimajinasikannya

*Adalah Kader HIMMAH NW Jakarta