Oleh; SAIFUL FIKRI 

(PIMPINAN PUSAT HIMMAH NW)

“Wansur Wahfadz wa’ayyid nahdtal wathan fil’aalamin”

(TGKH. Muhmmad Zainuddin Abdul Madjid)

            Mendiskusikan term inklusifitas atau keterbukaan dalam konteks perjuangan, seolah-olah memposisikan diri kita bercermin pada kondisi yang paradox pada saat ini. Keterbukaan adalah strategi sekaligus sikap bagaimana seseorang atau komunitas memperkenalkan identitasnya kepada yang lain. Dengan cara mengadaptasikan prilaku positif yang tidak mengkerdilkan identitasnya. Pola ini berbeda dengan cara pandang “siapa kita dan yang bukan kita”, menjadikan komunitas lain sebagai sebuah obyek ansich. Sehingga, wajar dalam prosesnya, sikap ini cenderung menutup diri, kaku, dan anti perubahan.

            Jargon ‘Pokoknya NW’, selain dapat membangun militansi dan menguatkan soliditas internal, disisi lain juga mengandung makna ekslusif. Jargon itu tidak marketable jika NW vis a vis dengan non NW. Mengkampanyekan jargon itu secara membabibuta justru membuat jarak pemisah dengan pelaku kebaikan yang lain. Menariknya, Maulana Syaikh dengan kesadaran spiritual dan intelektualnya menyempurnakan jargon ‘Pokoknya NW, Pokok NW Iman dan Taqwa’. Ide ‘Pokok NW Iman dan Taqwa’ menggambarkan semangat inklusif bahwa siapapun dan dari golongan manapun yang memegang teguh iman dan taqwa, maka itu adalah partner perjuangan Nahdlatul Wathan.

            Dalam perspektif  kepemimpinan organisasi, Maulana Syaikh tidak mengadopsi sistem otokrasi yang berbasis pada komunal kolegial. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa organisasi ini bukan milikku, tapi milik ummat. Statemen ini sesuai dengan semangat inklusifitas bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih sesuai dengan mekanisme organisasi yang berlaku.

            Nurcholis Madjid memaknai sikap inklusif tidak hanya sebatas strategi komunikasi untuk mensosialisasikan diri atau untuk meraih simpati personal yang berujung pada penambahan kuantitas kelompok, tapi inklusifitas juga dapat meminimalisir potensi konflik antar kelompok. Nurcholis juga menambahkan bahwa sikap keterbukaan itu sesuai dengan fitrah manusia yang cenderung menjalin hubungan kerjasama dengan pihak lain untk mendapatkan manfaat tertentu.

            Dalam melakukan akselerasi pendidikan, Maulana beradaptasi dengan kondisi pada saat itu. Beliau mengubah metode pendidikan konvensional menjadi lebih modern seperti perubahan model halaqah menjadi klasikal dan bekerjasama dengan dosen yang non muslim sebagai tenaga honorer yayasan. Strategi ini merefleksikan saat Rasululloh menjamin kebebasan tahanan perang dengan syarat mengajarkan baca tulis bagi anak-anak muslim.

            Nahdlatul Wathan sebagai organisasi Islam keummatan dengan visi universalnya tentu membutuhkan sikap inklusif. Hal ini menguntungkan bagi organisasi dalam mensosialisasikan  agenda kebaikan Nahdlatul Wathan Fil Khair (pendidikan, sosial, dakwah dan ekonomi ummat). Untuk mendapatkan kebaikan dalam bingkai inklusifitas, dibutuhkan persiapan yang memadai seperti penguatan kapasiatas intlektual, spiritual dan material yang terintegrasi dalam dimensi ruang dan waktu tertentu. Pembatasan ruang dan waktu yang tidak proporsional akan berpengaruh terhadap mobilisasi agenda-agenda kebaikan.  Keempat agenda kebaikan Nahdlatul Wathan tersebut akan mendapatkan “panggung” yang lebih besar jika pra syarat inklusifiitas itu terpenuhi. Qurayshihab dalam kajian tafsir Al-Misbahnya menjelaskan bahwa kualitas hidup seseorang atau organisasi dapat dilihat dari seberapa luas dan lama manfaat kebaikan yang dia berikan kepada orang lain. Semakin luas ruang kebaikannya dan semakin lama dirasakan manfaatnya maka semakin berkualitas nilai hidupnya.

            Maulana Syaikh sang pendiri memberikan isyarat universal agar syiar kebaikan Nahdlatul Wathan tersebar luas dan dinikmati oleh publik. Cukuplah bagi kita memaknai frase Wansyur Liwaa Nahdlatul Wathan Fil ‘Alamin sebagai motivasi para pecinta, abituren wabil khusus kader Nahdtul Wathan untuk menyebarkan kebaikan melintasi ruang dan waktu serta berpedoman pada etika organisasi yang tertuang dalam Wasiat Renungan Masa; ‘bumi dipijak langit dijunjung’.

(PIMPINAN PUSAT HIMMAH NW)