Oleh : Budi Suhartawan

Peringatan dizkrol dan Hultah NWDI 2015 sangatlah sepesial karana berlansung secara terpisah di mana dzikrol dilaksanakan selum puasa sedangkan Hultah NWDI setelah puasa. Pada tahun  2014, hal ini pernah terjadi, dan sekarang kembali lagi terjadi di tahun 2015. Hal yang phenomenal bagi masyarakat NTB khususnya, terutama warga NW sendiri. Untuk mengembalikan marwah dua momentum tersebut dengan rasa syukur yang tak terhingga, sebagimana lagu mars hultah dan dzikrol hauliyah.

Kalau kita berani mengatakan dengan sejujurnya, banyak kader NW tidak lagi menjadikan momentum ini sebagai hal yang luar biasa. Karena beranggapan bahwa hal itu hanya kegiatan ceremony saja, setelah selesai akan kembali lagi dengan pergolakan hati dengan ketidak puasnya terhadap makanan pada kegiatan tersebut. Peringatan dzikrol dan Hultah NWDI secara sudut pandang saya sederhana hanya dijadikan ajang kempaye, cari dukungan bahkan mencari perhatin atau ajang carmuk (cari muka) kalau istilah Maulana, cari kursi. Belakangan, hal ini sudah menjadi makanan para warga Nahdlatul Watahan. Karana disuguhkan dengan para kontestan pilihan kader yang kadang-kadang muncul dengan tiba-tiba.

Dalam kegiatan yang seharusnya, menjadi ajang evaluasi dan intropeksi organisasi berubah menjadi ajang yang tidak punya semangat membenahi organisasi. Para kadaer seakan terlena oleh siulan manis para kader pilihan yang akan disokong menjadi, pahlawan organisasi. Rontoknya nilai perjuangan dan tujuan awal kedua moment tersebut, dan kurangnya antusias Pengurus Besar dan jajarannya ini. Sebagaimana yang dicanangkan oleh Tuan Guru Bajang menjadi sekan sirna. Tarik-menariknya, kekuasan dan kerakusan posisi di dunia politik menjadi hal yang seakan mengalir ditubuh organisasi ini. Ini menujukan bahwa penyakit organisasi ini mau beranjak menjadi stadium emapat atau kronis.

Dalam kegiatan mulia ini, seperti dzikrol dan Hultah NWDI, seakan menjadi membikin pusing dan galau warganya. Oraganisasi yang seharusnya menjadi perhatian untuk terus dibenahi dan dikembangkan dan membangun kemandirian dalam perjuangan. Kini seakan sirna ditelan elite yang menamakan dirinya sebagi pejuang NW yang sejati. Padahal hanya menjadi pejuang ketika kesukan hatinya datang dan posisi yang harus dijajaki. Gagapnya organisasi menyikapai persoalan warganya yang terus menuntut perbaikan dan pelayanan dan peran pemimpin organisasi, yang menujukan peran mereka dipertanyakan.

Seiring dengan dua moment besar ini, seharusnya menjadi cermin bersih yang bisa digunakan oleh elit organisasi untuk bercermin kepada bagimana organisasi, sebelum kemerdekan dan organisasi setelah kemerdekan dan model pembinana kepemimpin yang ditanamkan oleh Rasulullah adalah semata untuk mengembalikan marwah dzikrol dan Hultah NWDI yang suci bagi warganya dan kader-kadernya. Contoh saja gaya kepemipninan rasullullah, umar bin khatob, dan para Khulafaurosyidin, Umar bin Abdul Aziz, Harun ar Rasyid dari Dinasti Abasiyyah, dan tidak perlu jauh-jauh model yang menjadi panutan saat ini yaitu Guru Besar kita Syikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Di mana beliau, awal berjaungnya harus bersusah payah mendidik orang mulai dari how too gretting (bagimana mengucapakan salam), yang selama ini beliau pandang sebagi hal yang penting walau dimata orang cerdik tidak begitu penting. Itulah Guru Besar kita. Beliau memperhatiakan bagimana, warganya harus teliti walau hanya mengucapkan salam. 

Inilah yang seharusnya diperahtikan oleh para pemimpin organisasi kita, bukan hanya pada hal-hal yang besar, sebagimana yang sering kita dengar “Gajah di depan mata tidak dilihat kuman disebrang lautan terliahtnya nyata’ senada dengan itu dalam salah satu wasiat maulana ditulis; “Kitab tak berbaris dibaca nyata, kitab berbaris hatinya buta” maknaya adalah kebanyakan orang hanya mau melihat hal yang besar, padahal hal kecil itu sangat lah penting. Ingatlah wahai pemimpinku, kebanyakan orang jatuh karna batu krikil, maka berusahalah melihat ke bawah atau warga. Jangan hanya menjadi tamu ketika butuh saja, warga NW sangat butuh perhatian para petinggi organisasi.

Jangan sampai perjuangan dan cita-cita Maulana, disimpan diplosok desa atau gubuk, nilai keseragaman ke-NW-an haya tersisa di kantong kecil saja. Warga NW berharap pada pemimpin organisasi mampu mengakulisasikan nilai perjuangan yang sudah mulai lentur dikembalikan dengan semangat cinta kepada warganya. Berharap warga mampu menjadi pendukung sekaligus didukung atau diayomi dengan perhatian dan membuka kran kebersamaan dalam membangkitkan marwah organisasi melalui Dzikrol Hauliyah dan Hultah. 

Bercerminlah pada organisasi yang dikenal atau dianggap besar saat ini di indonesaia Muahmmaddiyah dan Nahdlatul Ulama. Dengan Muhammadiyah sekarang dengan tokoh kharismatiknya yaitu KH .PROF, DR. Din Syamsuddin, dan Nahdaltul Ulama dengan pemimpinya sekarang KH. Prof. DR, Agil Siradj, MA. Mereka ini adalah anak kandung idelogi organisasi, keduanya bukan asli keturunan namun mampu memberikan gebrakan baru dengan dedikasinya. Sehingga kedua organisasinya menjadi terdepan dan terkenal. Bukan mengangakat mereka. Penulis mencoba membandingakn bagimana, setiap ajang yang dibuat oleh organisasi itu selalu menyentuh masyarkat bawah. Bahkan kader-kadernya yang menjadi orang penting mampu memberikan kontribusi baut organisasinya. 

Maka momentum setengah abad Dzikrol Ma’had Darul Qur’an wal Hadits dan HULTAH NWDI mampu marwah dan mampu mewujudkan senergi antara warga dan pemimpin Nahdaltul Wathan tanpa saling fitnah kiri-kanan. Walau itu, mutlak akan terjadi, karena kita berada dalam suatu organisasi. Panggung sejarah akan bergetar ketika organisasi Nahdaltul Watahn mampu membantu mewujdukan atau berpartisipasi pada garis terdepan dalam melakukan perubahan yang bermanfaat bagi warganya lebih-lebih kepada alam semesta sebagimana semboyan halaqoh pertama NW di Taman Mini Indonesia Indah setahun yang lalu. 

Dengan mampu mengangkat marwah di hari bersejarah esok itu, NW akan menjadi pembeda dalam membina kader dan lembaganya. Namun yang perlu ada dalam benak kita bersatu dan terus kompak membangun, mengasah, membina, mencetak dan mengembangkan kader dengan dukungan elit petinggi organisasi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membuat angka satu menjadi angka yang akan terus diikuti oleh iringan angka yang lain. Membagun dan berkarya bercita-cita dan raih cinta, bergembira dan raih cerita masa depan yang cerah.

Kembalikan marwah organisasi melalui momentum dua moment berharga ini. Jangan samapai organisasi menjadi tunggangan politik oleh kaum picik saja, yang haya butuh kursi dan posisi. Benahi organisasi dari sipat saling curiga mencurigai.

Hari bahgia yang akan datang Dzikrol Hauliyah di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits dan Hultah NWDI tidak akan bermakna apa-apa apabila kader dan warga NW sekarang senyum dengan pikiran kemunduran. Kalau tidak, mau berubah dan diperbaiki. Jangan haya hari bahagia yang bertujuan membangun marwah organisasi dan acara Dzirol dan Hultah NWDI adalah sebagai ritual tahunan saja, namun harus mampu berpijak dibumi sendiri, organisasi sendiri dan bangunan yang dipersembahkan oleh Guru kita Maulana. Jangan lupa juga apabila marwah ingin dibangun berusahalah untuk mengahrgai orang, dalam pandangan dan organisasi berbeda karana itu merupakan cara beradapatsasi dengan dunia nyata. Jangan pernah, menganggap organisai dan kelompok kita paling benar dan besar, namun yang perlu saling mengahrgai dalam keragamanan. Maka dengan momentum tersebut marwah organisasi menjadi lebih baik.

Salam ……….

Pamulang; 29/05/2015