Oleh Zulkarnaen

Dalam sebuah bukunya Prof. Quraish Syhab mengatakan perpecahan itu disebabkan karna komentar orang awam. Betapa tidak pecah, orang awam biasanya kekeh terhadap pengetahuan mereka. Agaknya kita paham kemudian maksud Imam Syafi’i ketika mengatakan ia selalu menang dalam suatu perdebatan kecuali ketika melawan orang awam.

Dalam tesis Paulo Freire pun menegaskan kalau orang awam memiliki sifat lemah dalam pendirian disebabkan karna wawasan mereka tidak banyak. Sampai pendidikan pun membodohi mereka kata Freire. Yang paling banter adalah tesis filosof kontemporer, ia bilang kalau jika wawasan seseorang itu hanya satu, maka sama halnya mereka tak mengetahui apapun.

Hari ini, kita menyaksikan realitas saling menyalahkan antar saudara semuslim karna perbedaan cara, bahkan sampai level menegasikan keimanan saudara semuslim sendiri. Hanya karna perbedaan cara kemudian menyalahkan dan menegasikan kemudian terjadilah disitegrasi sosial di tengah di ujinya NKRI akan kesatuannya. Jikalau Harun Nasution masih hidup, kita akan mikir kalau beliau tidak punya komentar atas realitas disitegrasinya NKRI ini setelah dulu beliau mengakan keheranannya atas sejarah Islam yang diwarnai perpecahan yang mengorban banyak saudara. Bagi beliau, Islam tidak pernah mengajarkan untuk membangun distegrasi sosial.

Orang awam perlu tahu kalau mereka awam kata imam Alghozali karna yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan. Ketidak tahuan akan keawaman diri akan mengakibatkan perpecahan seperti yang dikatakan Prof. Quraish Syihab. Dalam konteks fikihpun, kebijaksanaan itu yang dibutuhkan. Dalam kajiannnya Ulama’ disebut kalau dalam fikih ada istilah mujtrahid, muttabi’ dan muqollid. Istilah mujtahid adalah sebuah istilah untuk para imam mazhab seperti Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Ja’fari dan Imam-imam yang lain. Kata mujtahid berasal dari kata jahada yang dalam definisi ulama’ usul fikih bazlul wus’i an nailil hukmi yakni usaha sungguh-sungguh yang dalam mendaptkan hukum. Mujtahid dalam sejarahnya adalah mereka yang menguasai banyak pengetahuan tentang Alqur’an dan Alhadist. Tidak hanya ilmu bahasa arabnya tetapi melebihi itu termasuk pengetahuan sejarahnya, usul tafsir, usul fikih, bahkan menghapalnya. Mujtahid tidak boleh mnegikuti orang lain bahkan sampai level berdosa jika mereka mengikuti yang lain karna mereka mampu berijtihad sendiri dengan keluasan wawasan mereka.

Istilah muttabi’ secara bahasa bermakna pengikut. Kita mudah mengetahui perbedaan muttabi’ dengan muqollid. Jika istilah muqollid adalah mengikuti pendapat tanpa mengetahui kenapa pendapat seperti itu, maka muttabi’ adalah mengikuti pendapat dengan mengetahui kenapa pendapat itu seperti itu namun hanya sampai disitu, hanya tahu. Kentara perbedaannya antara 3 istilah tersebut.

Kemudian istilah mujtahid ada beberapa, ada istilah mujtahid mutlak yakni yang sudah di jelaskan di atas kemudian mujtahid mazhab dan mujtahid fatwa. Secara sederhana 2 mujtahid terakhir boleh mengikuti imam yang lain karna hanya mujtahid mutlak lah yang tidak boleh mengikuti orang lain.

Untuk orang awam menurut syeikh Ali Jum’ah seorang mufti Mesir bahwa mazhab fikih orang awan bukan imam Syafi’i bukan Imam Hanafi bukan imam yang lain. Mazhab mereka adalah ustadz mereka atau tuan guru mereka. Mereka tidak di bebani untuk mengikuti suatu mazhab tertentu bahkan keteragan beliau. Mereka dibolehkan untuk mengikuti keterangan ustadz mereka hatta keterangan ustadznya pendapat dari mazhab yang berbeda.